Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Belajar dari Kisah Einstein, Guru Tak Boleh Egois Dalam Menilai

Rahmania.my.id - Sahabat yang baik hati, banyak pakar pendidikan yang beranggapan, seandainya guru-guru di sekolah mengajar ilmu eksakta (Matematika, Fisika, dkk) tidak dengan pola hafalan rumus, mungkin saat anak-anak kita pun kita sendiri akan suka dengan pelajaran Matematika dan Fisika. Tapi faktanya, banyak siswa di sekolah yang benar tidak menyukai dua pelajaran ini, kecuali sebagian kecil yang hobi.

Sahabat, tahukah anda mengapa Albert Einstein begitu gemar dengan Fisika? Bagi anda yang pernah mempelajari Fisika di sekolah, pasti tidak asing bukan dengan Albert Einstein. Bahkan begitu diakuinya temuan-temuannya, Einstein disebut pantas menyandang predikat manusia yang sangat genius.

Namun pernahkah terlintas di benak kita, kenapa kisah Einstein ia begitu suka dan menguasai ilmu Fisika? Konon, saat Einstein masih kecil, pamannya sendiri yang mengajarinya pelajaran Fisika. Tentu saja dengan cara yang menyenangkan, tidak dengan hafalan rumus yang membosankan seperti kebanyakan guru di sekolahan. Ayolah bagi guru tidak perlu marah, jika cara mengajar kalian sudah asyik namun efektif, itu keren sekali. 

Cara Mengajar ala Paman Einstein
Nah, ketika Einstein belajar relativitas misalnya, pamannya lebih gemar berdialog dengan Einstein sebagai pola utama pembelajaran. Ya, dialog itu berupa tebak-tebakan, namun mengacuh pada kerangka logis. Setiap pamannya memberikan sebuah pertanyaan, Einstein berhak menjawab apapun, dan pamannya tidak akan menilai itu benar atau salah. Akan tetapi, pamannya akan memberikan sebuah stimulus berupa jawaban ‘masuk akal’ dan ‘tidak masuk akal’.

Tidak hanya diberikan kebebasan dalam menjawab, Einstein pun diberikan kesempatan menjawab berkali-kali, memperbaiki jawabannya, hingga Einstein merasa jawaban terakhirnya sangat masuk akal dari sebelumnya. Apa yang terjadi saat jawaban Einstein tidak masuk akal? Maka pamannya akan mengatakan, “Ayo, coba cari jawaban yang lebih rasional lagi.”

Dengan pola pembelajaran semacam ini, alhasil otak Einstein senantiasa digunakan dan diasah untuk memikirkan suatu jawaban yang konkret, logis, dan empiris. Maka tak heran apabila Einstein menjadi ilmuan Fisika yang paling top dunia dengan banyak penemuan yang dicetuskannya. 

Refleksi untuk Para Guru
Serius, tulisan ini tidak dibuat untuk meremehkan para guru, terutama guru fisika. Akan tetapi, sebagai manusia yang senantiasa belajar, marilah kita bersama-sama melakukan refleksi, apakah pembelajaran yang kita lakukan sudah tepat? Jangan-jangan, kehadiran kita di kelas justru membuat siswa menjadi tidak nyaman.

Jangan-jangan, pelajaran terasa menakutkan karena kita tidak tepat dalam menyampaikan, sehingga yang didapatkan siswa bukan ilmu melainkan kebencian terhadap pelajaran yang diterangkan.

Sebagai guru, kita memiliki tugas berat dalam mencerdaskan generasi penerus, pun termasuk bekal karakter. Tugas ini bukanlah satu arah, hal mana sebelum melakukan tugas ini, kita haruslah membentuk kepribadian sebagai seorang guru yang baik serta memiliki kecapakan pedagogis tinggi. 

Temukan pola pembelajaran yang menyenangkan dengan tetap mengedepankan substansi. Tidak perlu terlalu pakem dengan RPP yang dibuat, apalagi hanya untuk memenuhi tugas administrasi belaka.

Satu lagi, murid-murid kita di kelas, tidak semuanya punya bakat seperti Einstein yang suka ilmu eksakta. Maka jangan tuntut semua siswa di kelas pandai dan mendapatkan nilai >90 di pelajaran eksakta. Barangkali memang bukan itu kecakapan yang dibekalkan Tuhan kepadanya. Jangan marah kalau punya murid yang susah sekali diajar Matematika. 

Mungkin, kelak di masa depan dia akan menjadi penulis novel hebat, bukan menghitung ukuran tabung. Karena setiap murid punya kemampuan dan bakatnya masing-masing.

Karena,
“Jika kita mengukur kemampuan ikan dari caranya memanjat pohon, maka ia akan terlihat bodoh selamanya.”
 

Posting Komentar untuk "Belajar dari Kisah Einstein, Guru Tak Boleh Egois Dalam Menilai"