Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Wahai Suami, Jangan Biarkan Istrimu Terlalu Mandiri

Rahmania.my.id - Hingga saat ini, aku belum menemukan dalil shahih yang secara tegas menyebutkan bahwa memasak, mencuci pakaian, atau pekerjaan rumah lainnya merupakan tugas istri. Tapi baiklah, aku tak ingin menarasikan hukum ataupun hak kewajiban dalam rumah tangga. Ada hal lain yang menurutku lebih mendasar–tentang apa itu kemandirian istri. 

Sebagai seorang suami, aku tak pernah membiarkan istriku terlalu mandiri. Sebaliknya, aku ingin ia selalu bergantung padaku, membutuhkanku, dan selalu menantiku. Dengan pola ini, kami kerap berhadapan dengan stigma orang yang disematkan kepada kami: Suami takut istri atau istri yang pemalas. Tak masalah, itu hanya stigma orang lain. Sepanjang kami bahagia, kenapa kami harus meresponnya? 

Aku selalu berusaha tidur lebih akhir dan bangun lebih awal. Sederhana saja, aku ingin mamastikan hari itu aku sudah membahagiakannya, tak memberikan beban, sehingga ia bisa tidur dengan senyuman. Ketika ia terbangun, ia akan melihatku sudah terjaga lebih dulu, untuk mencintainya lagi di hari baru. 

Seperti biasa, sebelum berangkat ke pasar, aku selalu bertanya kepada istri, mau makan apa? Istriku tidak memberikan jawaban yang pasti ingin makan apa hari itu. Ia hanya memberikan opsi bahan-bahan apa saja yang perlu kubeli, itupun merujuk pada menu yang disukai anak-anak. 

Setibanya dari pasar, ‘nafkah pangan’ yang masih mentah itu masih harus kuolah lagi sehingga menjadi nafkah pangan yang sempurna. Jangan salah, aku adalah koki yang hebat di keluarga kecilku. Aku bahkan bisa mengetahui masakan kurang asin, manis, kecut, atau pedas hanya dari aromanya saja. Namun, bukan berarti istriku tak bisa atau tak mau masak. Aku hanya bilang padanya, jangan halangi aku dengan hobiku. 

Tatkala anak-anak sudah bangun, urusanku di dapur sudah selesai. Jika boleh memilih, aku ingin makan bersama istri, sepiring berdua dengan satu sendok. Namun, seringkali anak-anak tak membiarkan kami melakukannya. Baiklah, orang tua mesti ngalah, biarkan makan sepiring berdua dengan satu sendok itu anak-anak yang menikmati. 

Sesudah memastikan perut mereka terisi, ada hal lain yang harus kupastikan lagi: Pakaian yang dikenakan istriku dan anak-anak bersih. Maka setiap dua hari sekali, pakaian kotor yang menumpuk di keranjang harus kubereskan. Sebenarnya, di rumah ada mesin cuci, tapi hanya pengeringnya yang kupakai. Urusan mencuci, aku lebih suka manual, dikucek. Selain agar pakaian lebih awet, aku merasakan setiap kucek demi kucek membuat cintaku semakin membuncah–ada kebahagiaan tersendiri pada setiap kucekan.

Dengan pola ini, apakah aku membentuk istri menjadi perempuan yang pemalas? Tentu tidak. Aku hanya tak ingin ia terlalu mandiri. Seraya membiarkan istriku mengerjakan itu semua sendiri, hingga ia lupa caranya membutuhkanku dan tak lagi menantikan kepulanganku. Padahal, hasrat dan semangatku sebagian besar bersumber dari rasa ketergantungan itu.

Jika ada satu kemandirian yang benar-benar kuinginkan dari istriku, itu adalah mandiri dalam mencintaiku. Tentang bagaimana cara ia mencintaiku, aku tak akan pernah menganggunya. Sebagaimana ia tak pernah mengangguku mencintainya dengan caraku.

Kawan, sebagaimana judul tulisan ini, jangan sekali-kali membiarkan istrimu terlalu mandiri. Belanja ke pasar, memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga merawat anak-anak. Karena jika istrimu terlalu mandiri, apa pentingnya ia punya suami? Belum lagi istri yang bisa mencari duit secara mandiri, dengan jualan online misalnya. Jika istri sudah mandiri dalam segala hal, bukankah keberadaan suami semakin tak lagi diidolakan lagi?

Kawan, jika istrimu masih bergantung padamu, membutuhkanmu, dan menanti kepulanganmu, maka berbahagialah! Itu artinya, kau masih memilih ruang dan kesempatan untuk melakukan apa yang seharusnya kau lakukan: Membahagiakan istrimu.

*Catatan penting: Apabila kau dapati istrimu mulai terbiasa mengangkat galon sendiri, waspadalah!

-------------

Ditulis oleh: Rozak Al-Maftuhin

Posting Komentar untuk "Wahai Suami, Jangan Biarkan Istrimu Terlalu Mandiri"